And this is my choice
Setelah
istikharah panjang, sujud malam dalam kantuk yang berat, kantung mata akibat
kurang tidur bahkan mimpi mengenai integral, siklus krebs atau tentang soal try
out yang menghantui, kadang dibilang cupu karna tidak ingin ikut main uno
dengan saudara-saudaraku ataupun menolak tawaran hang out dengan alasan belajar,
ada try out, mau ulangan dan lainnya, dimana lidah lebih banyak mengucapkan doa
dibanding sebelumnya, kepala yang lebih lama bersujud dan otak yang lebih keras
berpikir hingga aku baru merasakan mual akibat berpikir. Lelah? tentu, teramat
sangat.
Masih
ingat betul tentang keseharianku yang benar-benar melelahkan, dimulai dari
bangun jam dua pagi, belajar, tahajud lalu lanjut shalat subuh, masak air untuk
mandi karna dinginnya air yang menusuk tulang, ditambah kalo bajuku kusut harus
kusetrika dulu, mandi, setelahnya masak untuk bekal makan pagiku, lalu
berangkat jam set enam pagi karna adanya pemantapan jam enam pagi hingga jam tujuh, istirahat 15
menit yang hanya kugunakan untuk makan, lalu belajar sampai jam 10 istirahat,
kupakai untuk dhuha dan belajar dengan teman kelas, topik obrolanpun berubah,
yang biasanya ngalor ngidul menjadi tentang univ-univ, jurusan atau tentang
alumni-alumni yang telah lolos di PTN, kegiatan pembelajaran terus berlanjut
hingga jam empat sore dan hanya dipotong untuk shalat zuhur, syukur kalo sedang
haid bisa kugunakan untuk jajan mengisi energi. Untungnya saaat itu aku tidak
mengikuti bimbel intensif UN, jadi disaat teman-temanku melanjutkan belajar di
bimbel, aku pulang kerumah, terkadang bantu nyuci piring sebentar atau masak
jika memang tidak ada lauk karna umi yang juga sibuk kerja. Saat sore inilah
aku ada waktu istirahat sebelum akhirnya azan magrib berkumandang, shalat,
ngaji hingga isya, shalat isya dan lanjut mengerjakan tugas, jika mata masih
kuat biasanya aku lanjut belajar jika tidak kadang langsung ambil wudhu untuk
shalat istikharah, meminta pilihan terbaik darinya dan mencondongkan pilihanku
lalu lanjut tidur dan begitupun keesokannya masih dengan rutinitas yang tidak
jauh berbeda.
Akhirnya
UN bisa aku selesaikan dengan baik, walau bukan dengan nilai fantastis tapi
memuaskan bagiku karna memang hasil perjuangan yang panjang yang bisa
kulakukan, jadi aku tidak kecewa sama sekali. Setelah itu aku jenuh, hari-hari
kupakai untuk istirahat, selalu menunda belajar untuk sbm, karna masih besarnya
pengharapan lolos di SNMPTN.
Hari dimana pengumuman SNMPTN pun tiba, aku kesekolah untuk membukanya bersama teman-temanku. Sedikit aku menundanya, melihat satu persatu dari mereka ada yang senang, biasa aja bahkan sedih. Setelah kupikir aku tunda-tundapun ga akan berubah, hanya akan bikin penasaran, akhirnya aku buka perlahan, sembari mengucap bismilah berharap melihat tulisan berwarna biru, sedikit lama, mungkin karna server penuh dan akhirnyaa.. aku ditolak. Kecewa bgt, dari situ aku langsung bilang, ok berarti di SBM.
Akhirnya umi menyuruhku ikut intensif SBM, kupilihlah di Cermat Institut, dan yang aku kecewakan terhadap diriku adalah waktu yang kubuang sia-sia saat menanti pengumuman SNM. Sedih waktu tau waktu belajar udah kurang dari sebulan, belum lg baca soal-soal dewa yang susahnya kaya nyari jarum di tumpukan jerami. Meski banyak cara untuk mencarinya tapi tetap sulit ditemukan. Hingga SBM tiba, aku merasa tidak puas dengan pengerjaanku, benar-benar sulit dan tidak bisa di prediksi. Masih ada pengharapan kalo orang lainpun sama denganku agar ada peluang untuk masuk.
Karna perkiraanku tidak lolos. Akhirnya aku mencari informasi ujian mandiri di internet, tercatat ada eman PTN yang akan ku ikuti. Ku ikutilah satu persatu hingga hari pengumuman SBM tiba, aku buka sendiri di kamar dan ternyata gagal lg. Masih besar pengharapanku di UM IPB dan UGM, karna aku bisa mengerjakannya, tapi ketika satu persatu pengumuman dibuka, ternyata saat itulah aku melihat kegagalan demi kegagalan kuhadapi. Tapi bukan Zae namanya kalo menyerah begitu saja. Aku ikut UM ke dua di UGM, UNS, UMM, UNISBA dan perguruan tinggi lainnya, lelah yang menghampiri serta pengumuman yang tiada ubahnya mengeluarkan tulisan berwarna merah yang menyakitkan hingga di suatu titik aku menangis meratapi nasib kenapa perjuangan dan pengorbanan selama ini terasa sia-sia. Satupun tidak ada yang berhasil, satupun di PTN yang ku daftarkan. Bahkan UGM, dan UNS menolakku tiga kali.
Masih kuingat ketika aku di Jogja, saat itu aku baru saja selesai UTUL UGM gel 2, tak lama ketika sedang istirahat sehabis lelahnya ujian, umi nelpon dan bilang kalo UNSOED masih buka. Kuputuskan untuk mengikutinya, kali ini karna sudah keterima di PTS dan mengingat kegagalanku yang berulang, kuputuskan untuk tidak mengambil jurusan kedokteran umum yang selama ini ku kejar, mencari passing grade rendah namun tetap tidak asal. Kupilih peternakan karna salah satu impianku memang ingin punya peternakan terutama untuk hewan-hewan kurban dan ayam, baik broiler maupun petelur, yang hasilnya ingin kugunakan untuk kegiatan sosial, membangun masjid untuk bekal amal jariahku di akhirat atau membangun panti asuhan, atau mungkin aku yang merawat mereka sendiri dengan suamiku bersama-sama dengan anak kandungku. Hmm.. Selesailah aku di perjuangan yang panjang kurang lebih dua bulan mondar-mandir keliling pulau jawa untuk berproses mengejar pengumuman bertuliskan warna biru.
Sesampainya di Sukabumi, satu persatu pengumuman kubuka, berharap ada yang nyantol walau hanya satu, dan pengumuman terakhir yang mba nisa buka ternyata lolos. Betapa bahagianya karna akhirnya aku diterima di PTN. Saat itu bimbang antara pilih ststistuka UNISBA atau peternakan UNSOED. Karna orang tua cinta negri makanya dari SD aku di negri, mungkin kalo ada TK negri aku bakal di taruh disitu, makanya mereka menyarankanku memilih UNOSED.
Yup pada akhirnya disinilah aku, di purwokerto, sebelumnya aku ga tau UNSOED itu dimana. Hehe... kalo ga karna kuliah disini mungkin sampai sekarang aku ga akan tahu. Di kampus inilah aku belajar organisasi yang lebih mantap, belajar mengenai politik gegara ikut KPR, ketemu dengan para aktivis, konyolnya kosan, serunya member hamasah, lelahnya praktikum dan lain-lain. Banyak yang kupelajari yang ingin ku aplikasikan dilabuh selanjutnya yang lebih panjang dan ganas. Hmm,, Makasih untuk anak-anak hamasah yang udah menggoreskan warna yang indah di perjalanan hidup ini, apalagi ketika kita ke magelang, pengalaman pertama bgt naik motor jauh kaya gitu, darinya aku baru tau HK itu apa, DQ, IF. Karna aku anak negri bgt jadi yang aku tau yaa SMA 3 bandung, 8 jakarta, 3 Jogja, pokonya sma-sma favorit. Kadang ada perasaan iri juga dan bertanya-tanya kenapa dulu umi ga masukin aku di sekolah-sekolah kaya gitu, apaagi waktu denger ceritanya mbasyah tentang kehidupan di HK kaya gimana, tentang gimana kalo disana itu gadget udah ga penting lg. Tentang cerita sarah yang suka main riddle di asrama. Hmm., ingin rasa mencicipinya juga. Tapi.. aku tetap bersyukur bisa sekolah di smantie. Belajar hedon, haha.. tau anak-anak gahol, kocak, gamers sampe anak berotak. Ngerasain denger lagu hits setiap hari, nonton film pas istirahat, atau sebuah dakwah yang sesungguhnya di tengah heterogennya manusia dengan pemikiran dan pemahaman yang berbeda. Hmmm.. suatu tantangan tersendiri memang untuk bisa mewujudkan lingkungan yang islami.
Akan kujadikan ini sebuah pelajaran yang sangat berharga, tapii.. tempat ini hanya untuk persinggahan singkat. Hanya sebuah pelatihan pertempuran sebelum akhirnya aku bertempur di medan perang yang sesungguhnya. Aku yakin, allah mungkin ingin aku mengenali medan tempur nanti seperti apa, jadi dia singgahkan aku disini dulu. Mungkin Allah tau kalo saat itu aku belum siap, jadi.. Allah siapkan dulu. Makanya saat ini aku berusaha memantaskan diri sebaik mungkin.
Tujuanku selanjutnya adalan FK UI. Sulit memang, tapi setelah kegagalan yang sebelumnya aku malah tertantang untuk mengambil yang lebih, ingin bisa melihat umi menangis karna keberhasilanku, membalas kegagalan kaka-kakaku yang juga gagal masuk kedokteran umum. Aku ingin bertemu dengan orang-orang hebat disana, belajar agar selalu tidak merasa cukup dengan kemampuan yang ada tapi bukan berarti tidak bersyukur. Belajar arti perjuangan, karna hakekatnya hidup ini memanglah sebuah perjuanagan, bukan peristirahatan.
Sadar betul bahwa FKUI bukanlah sebuah target yang mudah, dimana hanya orang-orang dengan usaha dan doa yang kuat yang dapat masuk kesana, orag-orang dengan integritas yang baik, yg mau meninggalkan kesenangan untuk belajar dengan keras. Makanya aku harus memantaskan diri dengan baik, berjuang lebih baik, dan usaha yang terbaik dari yang terbaik, harus mau melakukan lebih dibanding mereka yang juga berusaha, harus rela mengurangi jatah tidur untuk belajar, harus mau kaya pak Habibie yang tidak pernah tidur diatas empat jam, atau seperti teh Sonya Luvita kaka kelasku yang sangat menginspirasi yang hanya tidur dua jam saat menempuh pendidikan di Korea. Berjuang bukan berarti tidak indah, bukan juga tersiksa, malah hanya keindahanlah yang kita lakukan, ketulusan untuk bisa berguna bagi semua aspek kehidupan dengan perharapan ridho Allah, dan bayangan masa depan di tengah kerasnya pendidikan nanti adalah ibarat kita berpuasa, yg akan amat sangat terasa nikmat makan itu ketika berbuka, perbedaan kenikmatan itulah buah yg nanti kita petik, ibarat perbedan makan tempe saat tidak puasa dan saat puasa, sungguh akan lebih nikmat rasanya ketika kita berpuasa.
Aku harap tulisan ini dapat membantu membakar semangatku untuk belajar dan tidak menunda-nunda memulai pertempuran agar tidak kalah di medan perang. Bagiku SBMPTN ini seperti pertempuran yang amat terasa sengit, dimana kita harus jerih payah membangun benteng dan menyiapkan amunisi sebaik dan sebanyak mungkin agar tidak kalah dengan ribuan prajurit lainya.
Bukan berarti peternakan adalah jurusan yang kurang baik, bagiku jurusan apapun memiliki sisi hebat lainya, dan juga bukan berarti kedokteran merupakan jurusan terhebat, tapi ada tujuan dibalik semuanya yang amat teramat ingin kulakukan, bagiku menjadi seorang pengusaha ternak adalah profesi sampingan, karna jadi pengusaha bisa otodidak, tapi tidak dengan dokter. Aku ingin menggali keridhannya dengan menjadi dokter, banyak yang ingin kuselesaikan dengan profesi ini. Aku ingin seperti Dr. Munifah yang tak pandang bayaran untuk membantu orang sakit, atau seperti Dr. Asep Tajul yang luar biasa kontribusinya di jalan dakwah.
Lama sudah aku berada di confort zone, mungkin inilah saatnya aku keluar dan mendedikasikan diri untuk bangsa dan agamaku, aku ingin ada kesempatan juga untuk langsung terbang ke palestina membantu saudara-saudaraku disana, menjadi relawan dokter di rumah sakit Indonesia, makanya aku ingin mengambil spesialis bedah nantinya. Hakekatnya kita hidup memang untuk menjadi khalifah dibumi ini, maka dari itu apapun yang kulakukan nanti aku harap tidak melupakan peran sesungguhnya sebagai manusia.
Ya Allah yang membuatku gagal adalah peyakit malas yang amat melekat di diri ini, maka hilangkanlah perasaan malasku ini dan kobarkanlah semangatku agar aku dapat lolos di FK UI. Izinkanlah ilmu yang kupelajari dapat kuserap dengan baik karna sungguh tak ada ilmu satupun yang kudapat kecuali atas seizin darimu, lancarkanlah hamba dalam perjalanan ini, rdhoilah segala sesuatunya dan berkahkanlah. Aamiin
Sukabumi,
6 Februari 2017
Zae
Ini adalah tulisan 3 tahun yang lalu. Yaahh akhirnya aku tidak juga lolos di kedokteran, dan tetap di jurusanku yang dulu, peternakan. Tapi aku yakin, Allah maha baik atas segala ketentuannya. Setelah kegagalanku itu, ku bangkit dan memahami, bahwa dasarnya adalah bukan masalah dimana jurusanku atau apa profesiku. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi banyak orang dan itu yang sedang kutekuni sekarang J
Ini adalah tulisan 3 tahun yang lalu. Yaahh akhirnya aku tidak juga lolos di kedokteran, dan tetap di jurusanku yang dulu, peternakan. Tapi aku yakin, Allah maha baik atas segala ketentuannya. Setelah kegagalanku itu, ku bangkit dan memahami, bahwa dasarnya adalah bukan masalah dimana jurusanku atau apa profesiku. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi banyak orang dan itu yang sedang kutekuni sekarang J
Purwokerto,
4 Maret 2020
Zae
0 comments:
Posting Komentar