Rabu, 04 Maret 2020

MENGATASI DHA’FUT TARBIYYAH MELALUI REAKTUALISASI KOSBIN SEBAGAI SARANA MEMBANGUN MUWASHOFAT KADER



“Kegiatan-kegiatan keseharian Kosbin ibarat asupan sehari-hari kader yang dapat menjaga badan tetap sehat dan memberikan energi untuk bergerak. Maka Liqo, khalaqah, mentoring serta kegiatan keislaman lainya menjadi suplemen tambahan untuk menambah stamina kader dalam berdakwah”.

Misi Islam adalah membebaskan manusia dari segala bentuk pengabdian kepada makhluk, kemudian menjadi pengabdi Allah SWT semata yang diwujudkan dengan tunduk kepada sistem Islam dan syariat Allah, sehingga seluruh manusia bernaung di bawah panji Islam dan kepemimpinan dipegang oleh umat Islam demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu misi utama dakwah adalah risalatut taghyir (melakukan perubahan). Mengubah kehidupan manusia sehingga sejalan dengan tuntutan Islam, baik pada tingkatan individu maupun tingkatan kolektif. Dengan begitu akan terwujud tatanan hayatun thayyibah (kehidupan yang baik). Upaya mewujudkan perubahan tersebut, pada pokoknya bersandar pada perubahan unsur manusianya. Manusialah unsur inti kehidupan. Oleh karena itu, dakwah Islam pada misinya yang pokok adalah bagaimana membentuk manusia-manusia yang berkepribadian Islam. Inilah yang dikenal sebagai tarbiyah Islamiyah, manhaj Rabbani yang menjadi jalan para rasul dalam mencetak bukan saja pionir dakwah, tetapi juga masyarakat baru Islam. 
Gerakan dakwah kita menempatkan tarbiyah sebagai munthalaq (titik tolak) semua aktivitas dakwah, dan menempatkan SDM kader dakwah sebagai rashidul harakah (aset utama gerakan). Kader merupakan output utama dari aktivitas tarbiyah. Pembesaran kekuatan inti gerakan dakwah ini terletak pada pertumbuhan kader-kadernya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Selain bentuk tarbiyah yang berorientasi pada pencetakan kader (tarbiyah nukhbawiyah), kita pun melakukan tarbiyah jamahiriyah, yaitu proses penyadaran dan pembinaan keislaman masyarakat secara umum dan masif. Karena dari sudut pandang siyasatu dakwah, membangun dan terus memperbesar dukungan qaidah ijtimaiyyah (basis sosial) menjadi sebuah keniscayaan. Dakwah membutuhkan masyarakat yang secara sadar dan faham memberikan loyalitasnya kepada Islam dan dakwah Islam. Selain itu, tarbiyah jamahiriyyah juga diharapkan dapat menyumbangkan bahan baku bagi tarbiyah nukhbawiyah.
Kedudukan tarbiyah yang sangat strategis seperti itu hendaknya menyadarkan kita bahwa keberlangsungan program tarbiyah wajib dijaga dengan penuh kedisiplinan. Elemen tarbiyah dalam struktur dakwah harus mengawal aktivitas ini dan memastikan bahwa seluruh elemen dibawahnya mampu melaksanakan manhaj tarbiyah dengan penuh disiplinLemahnya aktivitas tarbiyah sudah dipastikan akan menimbulkan berbagai penyakit dan kelemahan. Ibarat tanaman yang tak pernah disiram atau dipupuk secara tepat dan teratur, gerakan dakwah akan mudah terserang berbagai penyakit, melemah, dan akhirnya mati, kemudian tidak memberi manfaat sama sekali kepada umat. Bahkan menjadi sampah yang menodai keindahan dan kemolekan Islam.Ustadz Fathi Yakan dalam bukunya “Robohnya Dakwah Di tangan Da’I” menyebutkan bahwa salah satu penyebab hancurnya berbagai kelompok Islam adalah dha’fut tarbiyah (lemahnya tarbiyah). Munculnya fenomena ini menurutnya dapat disebabkan beberapa faktor: (1) Kekurangan dalam manhaj tarbawi, (2) Lemahnya kapasitas murabbi, (3) Rapuhnya strategi atau pincangnya langkah pengaturan kerja, misalnya satu bidang kerja mendapatkan porsi perhatian lebih banyak dari bidang yang lain, (4) Terseretnya gerakan Islam ke dalam pertikaian yang tidak membawa faedah apa pun, (5) Terkurasnya potensi gerakan Islam dalam sejumlah proyek yang dari segi urgensi maupun skala prioritasnya bukan termasuk urutan pertama. (Yakan, 2011)
Dha’fut tarbiyah juga berpengaruh pada menurunnya kualitas kader. Padahal pertumbuhan kualitas sangatlah dibutuhkan seiring dengan tantangan medan dakwah yang semakin berat dari waktu ke waktu. Ridwansyah Yusuf Ahmad dalam bukunya “ Menuju Kampus Madani” menegaskan bahwa kualitas kader dalam kehidupan dakwah harus senantiasa mengikuti kebutuhan marhaliah dan mihwar dakwah. Semakin meningkat marhalah dan semakin meluas mihwar dakwah, maka kualitas kader pun dituntut untuk semakin berkembang. Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan muncul bencana bagi dakwah. Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu istiqamah di dalam mengikuti irama perjalanan dakwah yang dinamis. Ia akan tersibukkan oleh problem-problem personal dan terjauhkan dari aktifitas dakwah. Kedua, munculnya sebagian kader yang menginginkan kehidupan dakwah sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi enggan ketika perjalanan dakwah ini begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang banyak. Mereka cenderung menjadi orang yang ingin ‘hidup dari dakwah’ dan bukan ‘menghidupi dakwah’. 
Ketiga, munculnya ketidakmampuan di dalam menjalankan misi dakwah di tengah-tengah masyarakat. Ini karena daya dukung dan daya topang yang dimiliki kader semacam ini tidak seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan dakwah yang semakin terbuka. Keempat, akibat dari ketiga hal ini, dakwah menjadi disibukkan oleh problematika internal yang menguras energy dakwah, sehingga tidak mampu menjalankan misi-misi perubahan secara efektif. Padahal misi utama dakwah adalah melakukan perubahan dan perbaikan secara nyata. Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan antara harapan besar masyarakat dengan apa yang bisa diberikan oleh dakwah. Lalu terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi. Krisis ini bisa jadi diperamai oleh sejumlah kasus-kasus negative yang muncul ke permukaan. 
Keenam, pada saat semacam itulah, akan muncul pikiran di sebagian kader yang lemah, untuk menarik kembali dakwah ke belakang. Mereka merasa lebih nyaman ketika dakwah ini belum berhadapan langsung dengan masyarakat secara terbuka. Inilah bencana yang bisa terjadi kepada dakwah manakala aspek kualitas diabaikan.Lunturnya akhlak islami Lemahnya tarbiyah berarti melemahnya ziyadah (penambahan atau pembekalan), nas’ah (pertumbuhan), taghdiyyah (pemberian gizi), ri’ayah (pemeliharaan), dan muhafadzoh (penjagaan) terhadap iman, ilmu, dan amal. Gejalanya terlihat dari lunturnya akhlak. Munculnya fenomena-fenomena kejanggalan akhlak atau suluk di kalangan aktivis dakwah selain karena faktor-faktor manusiawi, sesungguhnya berawal juga dari lemahnya tarbiyah. Sebagai contoh, ada kader yang terlalu berlebih-lebihan dalam hal yang mubah sehingga tergiring kepada hal-hal yang syubhat, sikap wara’, iffah, dan menjaga muru’ah dalam beberapa hal melemah; hijab menjadi semakin longgar; dan lain sebagainya.
Kejanggalan-kejanggalan akhlak tersebut insya Allah akan dapat diminimalisir jika tarbiyah berjalan dengan baik. Kader dakwah hendaknya mampu mengendalikan dirinya agar selalu berpegang teguh pada aqidah, akhlak, dan syariah Islam. Namun untuk itu bukan berarti ia harus menjadi orang kaku atau aneh di tengah-tengah umat. Akan tetapi hendaknya ia mampu menempatkan dirinya secara proporsional tanpa harus melanggar aqidah, akhlak, dan syariah Islam. Melemahnya kekokohan ideologi Tarbiyah adalah pewarisan ide. Tentu saja bukan sekedar proses pemindahan ‘isi kepala’ murabbi ke dalam kepala mutarabbi, tapi lebih jauh dari itu tarbiyah sesungguhnya adalah proses menghidupkan ruh, akal, dan jasad agar selalu bergerak mewujudkan cita-cita dan idealisme dalam kehidupan.Lemahnya tarbiyah berarti lemahnya proses pewarisan ide; mandegnya proses kebangkitan ruh, akal, dan jasad dengan shibghah Islam. Dalam situasi seperti itu virus-virus aqidah dan fikrah beserta polutan-polutan ideologi menyimpang tentu sangat mudah menggerogoti kefitrahan ruh, akal, dan jasad. 
Penyimpangan orientasi atau lupa terhadap tujuan dan cita-cita Dalam kondisi ruh yang berpenyakit, kualitas diri yang rendah, lunturnya akhlak, dan melemahnya kekokohan ideologi, janganlah heran jika pada akhirnya seorang kader dakwah menjadi lupa pada orientasi perjuangannya. Obsesinya berubah, kebanggaannya berubah, cita-citanya merendah, dan geraknya pun jadi semakin lamban. Akhirnya lama-kelamaan ia mulai mundur teratur, pamit dari gelanggang dakwah, kemudian asyik dengan dunia barunya. Kini ia telah lupa dengan cita-cita raksasa yang pernah bersemayam di dalam jiwanya. Dapat disimpullkan bahwa sebagian besar dampak dari dha’fut tarbiyyah adalah menurunnya kualitas kader, kualitas ini berkaitan erat dengan muashofat kader tarbiyyah yang sekurang-kurangnya disebutkan ada 10 syarah muwashofat. Dilihat dari besarnya medan dakwah saat ini maka khalaqah atau liqo masih belum bisa menanamkan muashofat tarbiyyah kepada binaan-binaannya, intensitas yang kurang serta sistem liqo, khalaqah atau mentoring yang fluktuatif serta kurang sistematif menjadi faktor sulitnya menanamkan muashofat kader, maka solusi konkritnya adalah kita mengaktualisasikan kembali fungsi dari kosbin sebagai tempat pengkaderan yang strategis.
Abbas As-siisiy dalam bukunya “bagaimana menyentuh hati” menegaskan bagaimana Rasulullah SAW sangan menjujung tinggi karakter keislaman tatkala adas datang kepada rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata“makanlah”Rasulullah memulai langkah pertamanya dengan mengucapkan “bismillahirrahmanirrahim”, lalu memakannya. Adas lalu berkata “Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negri ini”, Rasul berkata “wahai adas kamu berasal darimana dan apa agamamu? ”adas menjawab“ saya beragama nasrani, saya dari negri ninawai.” Adas berkata “apa yang anda ketahui tentang Yunus bin matta?“dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi”. Mendengar jawaban tersebut adas angsung memeluk nabi dan masuk kedalam ajarannya.
Disinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik islam, seandainya rasul tidak mengucapkan basmallah, maka mungkin Adas tidak akan pernah bertanya dan masuk islam. Selain itu dengan Rasulullah memanggil Adas dengan Nama serta menjunjung Yunus menjadikan hati Adas tersentuh dan tertarik. Contoh yang sangat sederhana dari sepotong episode kehidupan Rasulullah sangat memberikan pelajaran bagaimana karakter merupakan hal yang sangat penting dalam berdakwah (As-siisiy, 2017)
Kos binaan dirasa dapat membentuk karakter tersebut. Kos binaan merupakan kos yang jumlahnya relatif banyak dan tersebar di kawasan kampus kampus negri. Kos binaan di Purwokerto dikelola oleh sebuah lembaga bernama Rumah Teladan Mahasiswa (RTM) yang masih memiliki alur koordinasi dengan Lembaga Dakwah Kampus. Kosbin ini merupakan kos yang dikhususkan untuk mahasiswa beragama Islam. Kosbin tidak hanya sebagai tempat tinggal saja, namun juga memberikan pendidikan tentang ajaran Islam bagi yang menempatinya. Kos binaan terbagi menjadi dua jenis, yaitu Kos Ikhwan dan Kos Akhwat. Kos Ikhwan berarti bahwa kos tersebut merupakan kos yang diperuntukkan bagi laki-laki dan Kos Akhwat berarti bahwa kos tersebut diperuntukkan bagi perempuan.
Urgensi pendidikan dalam lembaga yang humanis serta perlunya dilakukan reaktualisasi peran pendidikan Islam dengan segala komponen-komponen pendidikan sangat dibutuhkan agar dapat mewujudkan pendidikan humanistik (Mujahidun, 2012). Rumah Teladan Mahasiswa juga secara khusus mengajarkan tentang nilai-nilai dalam ajaran Islam. Mahasiswa laki-laki yang umumnya dianggap oleh masyarakat lebih bebas, seolah dibentuk untuk mematuhi aturan yang berlaku di Rumah Teladan Mahasiswa. Meria (2012) menyatakan bahwa pendidikan Islam merupakan upaya strategis dalam membentuk pribadi manusia. Pemberlakuan berbagai aturan dan kegiatan-kegiatan di dalam kos sebagai bentuk kebijakan yang didefinisikan oleh Rumah Teladan Mahasiswa nyatanya tidak memengaruhi banyaknya mahasiswa yang tetap memilih untuk menempati kos binaan.
Nilai-nilai keislaman yang ditanamkan di kosbin berkaitan dengan nilai-nilai dasar Islam yang wajib dimiliki oleh setiap umat Islam. Nilai-nilai keislaman yang ditanamkan di Rumah Teladan Mahasiswa lebih mengarah kepada bagaimana membentuk akhlak sebagai seorang muslim.Rumah Teladan Mahasiswa mempunyai fungsi sebagai wahana bagi kader-kader untuk membentuk muawhofat tharbiyah. Penanaman nilai-nilai keislaman melalui berbagai kajian-kajian yang diberikan didalam kos binaan dapat membentuk kepribadian sebagai seorang muslim atau akhlakul karimah yang lebih bersifat aplikatif atau penerapan. Pemberlakuan aturan-aturan khusus yang didasarkan pada adab Islami juga merupakan upaya penanaman nilai-nilai keislaman secara langsung. Penghuni  kos binaan diharapkan memiliki sikap dan perilaku yang baik melalui pembinaan dalam kajian-kajian yang sebelumnya lebih bersifat kognitif atau wawasan. Wawasan keislaman yang diterima oleh kader dalam kegiatan kos binaan dapat membentuk kebiasaan yang mengacu pada keteraturan hidup (Utomo, dkk,2015)  dengan mengedepankan etika yang sesuai dengan tuntunan agama dan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Pembentukan karakter dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hariterhadap kader-kadernya. Sikap dan perilaku sebagai seorang muslim yang berakhlakul karimah oleh kader-kader kos binaan terlihat dari nilai-nilai keislaman yang diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, yaitu dengan tidak memotong pembicaraan, bertutur kata yang baik, serta tidak mengghibah atau menggunjing orang lain saat sedang mengobrol.
Aturan-aturan yang diberlakukan bagi kader kos juga merupakan bagian dari pembinaan untuk membentuk akhlakul karimah dengan menjalankan perintah dan anjuran agama Islam serta menjauhi larangan-larangan dalam agama Islam. Aturan yang diberlakukan bagi penghuni kos binaan, seperti menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan adalah perwujudan etika yang terdapat dalam ajaran agama Islam serta penghuni kos binaan juga dilarang mendekati zina yang dapat membawa kemudharatan atau pengaruh buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebagai Media untuk Memproteksi kader dari Pergaulan Bebas.
Maka kosbin menjadi sarana yang pas dalam membentuk muashofat tarbiyyah yang nantinya sangat bermanfaat dan penting dalam keberlangsungan jalan dakwah. pendidikan mempunyai peranan yang relatif penting untuk memberikan pemahaman dan benteng pertahanan kepada anak agar terhindar dari jeratan negatif media massa. Rumah Teldan Mahasiswa memberikan perlindungan atau proteksi terhadap santri-santrinya. Perlindungan yang diberikan adalah berupa lingkungan yang kondusif. Lingkungan kondusif ini didukung oleh program-program keagamaan serta pemberlakuan aturan-aturan yang berkaitan dengan nilai-nilai keislaman yang diberikan kepada penghuni-penghuni kos binaan. Pembentukan lingkungan yang kondusif dengan iklim keagamaan merupakan upaya untuk menjaga pergaulan penghuni kos binaan agar terhindar dari pergaulan bebas dan merosotnya moral yang dapat menjadi penghambat dalam berdakwah.
Dengan memaksimalkan fungsi Kos binaan dapat mencetak kader-kader berkarakter yang nantinya lebih mantap berada di medan dakwah. Proses pendataan dan perekrutan kader untyk regenerasi menjadi lebih rapih dan tertata seta lebih terjaga wajihah-wajihah kadernya. Sudah saatnya kita mengevaluasai keberjalanan Kos Binaan yang ada di kampus Unsoed dan mengaktualisasikan kembali fungsi, sistem serta teknis keberjalanannya.
Mari segera tekadkan dalam diri untuk meningkatkan kualitas tarbiyah kita. Jangan jadikan dha’fut tarbiyah menjadi bahaya laten bagi gerakan dakwah. Bukankah kita ingin menjadi golongan rabbaniyyin? 
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79).

Sumber : 
Achmad, R. Y. 2010 . Menuju Kampus Madani. Ideashpere Books: Bandung
As-Siisiy, A. 2017. Bagaimana Menyentuh Hati. Era Adicitra Intermedia: Surakarta
Meria, Aziza. 2012. Pendidikan Islam di Era Globalisasi Dalam Membangun Karakter Bangsa.
Dalam Jurnal Al-Ta’lim, Jilid 1 No. 1 hal. 87-92
Mujahidun. 2012. Internalisasi Pendidikan Humanistik (Reaktualisasi Peran Lembaga Pendidikan
Islam). Jurnal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang. Vol 3 No. 1


0 comments:

Posting Komentar