Rabu, 04 Maret 2020

Belajar Memimpin dari Cerita Sang Kala


               Pemimpin adalah orang yang memegang kekuasaan dan sebagai pengemban amanah dari hal yang dipimpinnya. Dalam menjalanin kempemimpinan,  belajar dari kesalahan sebelumnya dan berusaha menjalankan amanah dengan baik merupakan cara yang bijak, karena tidak ada kepemimpinan yang sempurna sama halnya seperti manusia. Lalu, bagaimanakah pemimpin yang seharusnya?
            Kita mulai dari Nicolae Ceausescu, presiden Rumania yang lebih tepat disebut raja yang lalim. Sangat berkuasa, otoriter dan diktator, yang dengan tentara rahasianya, bisa mengetahui hampir setiap gerrak-gerik warga negara. Nicolae berakhir dengan tragis. Setelah rakyat menyerbu istana, dia dan istrinya diseret dan harus mati di tangan rakyatnya. Berhasil dijatuhkan tapi untuk kejatuhannya, Rumania harus mengorbankan puluhan ribu rakyatnya dalam satu revolusi berdarah.
            Ferdinand Marcos di Filipina. Memulai karir sebagai pengacara yang gemilang, hingga menjadi tumpuan harapan bangsa di filipina. Memerintah selama beberapa dekade, namun berakhir dengan terusir dari negrinya, setelah gerakan masa dipimpin oleh istri dari lawan politik yang elah dibunuhnya, meraih dukungan rakyat. Bahkan setelah matinya pun, jasadnya sempat dotolak oleh negaranya sendiri.
            Alberto Fujimori, seorang minoritas keturunan Jepang, berhasil menjadi presiden Peru dengan dukungan luas. Memulai denga kampanye keliling negara untuk kemajuan pembangunan, pembebasan korupsi dan berbagai janji lain. Masa pemerintahannya berakhir saat dia mengunjungi negara leluhurnya Jepang dan meninggalkan isu korupsi yang dituduhkan kepadanya.
            Lalu, ada estrada di filipina. Sebelumnya terkenal sebagai bintang film yang paling dipuja, hingga akhirnya mendapat mandat memimpin negara. Belakangan ia dipaksa mundur oleh ratusan ribu orang yang demo turun ke jalan. Mantan orang terkuat itupun jatuh dan harus meninggalkan negaranya.
            Tak perlu jauh melihat ke sana, di Indonesia ada Soeharto yang berkuasa yang ditakuti selama tiga dawarsa, yang kemudian berakhir kepemimpinannya dengan hujatan, caci maki dan berbagai hinaan, persis seperti pendahulu sebelumnya, Presiden Soekarno yang sempat di daulat sebagai presiden seumur hidup.
            Darinya kita belajar, bahwa orang-orang yang  hanya haus akan kekuasaan dan jabatan hanya akan berakhir pada penyesalan yang menggigit. Bahwa salah sedikit saja kita memilih pemimpin, maka hasilnya tidak akan jauh dari mereka. Inilah saatnya kita memilih pemimpin dengan kehati-hatian, ketelitian dan pertimbangan yang matang. Jika saya disuruh memilih pemimpin yang ideal, mereka bukanlah orang yang tepat. Lagi-lagi bagaimanakah pemimpin yang seharusnya?
            Ada seorang yang bernama Muhammad yang memulai dengan segala kesederhanaan, kejujuran dan kesungguhan, yang kepemimpinannya berakhir dengan kecintaa, kedamaian, dan kemajuan yang tak pernah hilang di hapus masa. Ada Umar bin Khatab yang memulai dengan ketegasan, kearifan dan keberpihakan  kepada kebenaran yang berakhir dengan tegaknya keadilan, dan kesetaraan hukum bagi semua rakyatnya. Lalu, Umar bin Abdul Aziz yang memulai dengan ketakwaan dan mengakhiri dua tahun pemerintahannya dengan pencapaian yang sangat gemilang. Di Indonesia ada Jendral Soedirman, yang dengan kewibawaan, keimanan, keberanian dan semangat yang tiada padamnya memimpin perang gerilnya dan berakhir dengan penuh kecintaan dan kehormatan, yang mewariskan semangat perjuangan hingga saat ini.
            Merekalah para pemimpin yang ideal dengan versi dan cara mereka masing-masing, yang dengan berbagai macam karakter mampu memimpin anggotanya dengan kesungguhan, kewibawaan, dan semangat yang menular.  Pemimpin yang ideal bukanlah mereka yang harus menjadi ini atau itu. Tapi pemimpin yang ideal adalah mereka yang dengan semangat dan karakternya mampu memimpin dengan warna yang bisa diterima oleh anggotanya, bahkan dijadikan panutan.


0 comments:

Posting Komentar