“Kegiatan-kegiatan keseharian Kosbin
ibarat asupan sehari-hari kader yang dapat menjaga badan tetap sehat dan
memberikan energi untuk bergerak. Maka Liqo, khalaqah, mentoring serta kegiatan
keislaman lainya menjadi suplemen tambahan untuk menambah stamina kader dalam
berdakwah”.
Misi Islam
adalah membebaskan manusia dari segala bentuk pengabdian kepada makhluk,
kemudian menjadi pengabdi Allah SWT semata yang diwujudkan dengan tunduk kepada
sistem Islam dan syariat Allah, sehingga seluruh manusia bernaung di bawah
panji Islam dan kepemimpinan dipegang oleh umat Islam demi tercapainya kebahagiaan
dunia dan akhirat. Oleh karena itu misi utama dakwah adalah risalatut taghyir
(melakukan perubahan). Mengubah kehidupan manusia sehingga sejalan dengan tuntutan
Islam, baik pada tingkatan individu maupun tingkatan kolektif. Dengan begitu
akan terwujud tatanan hayatun thayyibah (kehidupan yang baik). Upaya
mewujudkan perubahan tersebut, pada pokoknya bersandar pada perubahan unsur
manusianya. Manusialah unsur inti kehidupan. Oleh karena itu, dakwah Islam pada
misinya yang pokok adalah bagaimana membentuk manusia-manusia yang
berkepribadian Islam. Inilah yang dikenal sebagai tarbiyah Islamiyah, manhaj
Rabbani yang menjadi jalan para rasul dalam mencetak bukan saja pionir dakwah,
tetapi juga masyarakat baru Islam.
Gerakan
dakwah kita menempatkan tarbiyah sebagai munthalaq (titik tolak) semua
aktivitas dakwah, dan menempatkan SDM kader dakwah sebagai rashidul harakah
(aset utama gerakan). Kader merupakan output utama dari aktivitas tarbiyah.
Pembesaran kekuatan inti gerakan dakwah ini terletak pada pertumbuhan
kader-kadernya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Selain
bentuk tarbiyah yang berorientasi pada pencetakan kader (tarbiyah nukhbawiyah),
kita pun melakukan tarbiyah jamahiriyah, yaitu proses penyadaran dan pembinaan
keislaman masyarakat secara umum dan masif. Karena dari sudut pandang siyasatu
dakwah, membangun dan terus memperbesar dukungan qaidah ijtimaiyyah (basis
sosial) menjadi sebuah keniscayaan. Dakwah membutuhkan masyarakat yang secara
sadar dan faham memberikan loyalitasnya kepada Islam dan dakwah Islam. Selain
itu, tarbiyah jamahiriyyah juga diharapkan dapat menyumbangkan bahan baku bagi
tarbiyah nukhbawiyah.
Kedudukan
tarbiyah yang sangat strategis seperti itu hendaknya menyadarkan kita bahwa
keberlangsungan program tarbiyah wajib dijaga dengan penuh kedisiplinan. Elemen
tarbiyah dalam struktur dakwah harus mengawal aktivitas ini dan memastikan
bahwa seluruh elemen dibawahnya mampu melaksanakan manhaj tarbiyah dengan penuh
disiplin. Lemahnya
aktivitas tarbiyah sudah dipastikan akan menimbulkan berbagai penyakit dan
kelemahan. Ibarat tanaman yang tak pernah disiram atau dipupuk secara tepat dan
teratur, gerakan dakwah akan mudah terserang berbagai penyakit, melemah, dan
akhirnya mati, kemudian tidak memberi manfaat sama sekali kepada umat. Bahkan
menjadi sampah yang menodai keindahan dan kemolekan Islam.Ustadz Fathi
Yakan dalam bukunya “Robohnya Dakwah Di tangan Da’I” menyebutkan bahwa salah
satu penyebab hancurnya berbagai kelompok Islam adalah dha’fut tarbiyah
(lemahnya tarbiyah). Munculnya fenomena ini menurutnya dapat disebabkan
beberapa faktor: (1) Kekurangan dalam manhaj tarbawi, (2) Lemahnya kapasitas
murabbi, (3) Rapuhnya strategi atau pincangnya langkah pengaturan kerja,
misalnya satu bidang kerja mendapatkan porsi perhatian lebih banyak dari bidang
yang lain, (4) Terseretnya gerakan Islam ke dalam pertikaian yang tidak membawa
faedah apa pun, (5) Terkurasnya potensi gerakan Islam dalam sejumlah proyek
yang dari segi urgensi maupun skala prioritasnya bukan termasuk urutan
pertama. (Yakan, 2011)
Dha’fut
tarbiyah juga berpengaruh pada menurunnya kualitas kader. Padahal pertumbuhan
kualitas sangatlah dibutuhkan seiring dengan tantangan medan dakwah yang
semakin berat dari waktu ke waktu. Ridwansyah Yusuf Ahmad dalam bukunya “
Menuju Kampus Madani” menegaskan bahwa kualitas kader dalam kehidupan dakwah harus senantiasa
mengikuti kebutuhan marhaliah dan mihwar dakwah. Semakin meningkat marhalah dan
semakin meluas mihwar dakwah, maka kualitas kader pun dituntut untuk semakin
berkembang. Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan muncul bencana bagi
dakwah. Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu istiqamah di dalam
mengikuti irama perjalanan dakwah yang dinamis. Ia akan tersibukkan oleh
problem-problem personal dan terjauhkan dari aktifitas dakwah. Kedua, munculnya
sebagian kader yang menginginkan kehidupan dakwah sebagai sesuatu yang ringan
dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi enggan ketika perjalanan dakwah
ini begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang banyak. Mereka cenderung
menjadi orang yang ingin ‘hidup dari dakwah’ dan bukan ‘menghidupi
dakwah’.
Ketiga, munculnya ketidakmampuan di dalam menjalankan misi dakwah
di tengah-tengah masyarakat. Ini karena daya dukung dan daya topang yang
dimiliki kader semacam ini tidak seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan dakwah
yang semakin terbuka. Keempat, akibat dari ketiga hal ini, dakwah menjadi disibukkan oleh
problematika internal yang menguras energy dakwah, sehingga tidak mampu
menjalankan misi-misi perubahan secara efektif. Padahal misi utama dakwah
adalah melakukan perubahan dan perbaikan secara nyata. Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan antara
harapan besar masyarakat dengan apa yang bisa diberikan oleh dakwah. Lalu
terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi. Krisis ini bisa jadi
diperamai oleh sejumlah kasus-kasus negative yang muncul ke permukaan.
Keenam, pada saat semacam itulah, akan muncul pikiran di sebagian
kader yang lemah, untuk menarik kembali dakwah ke belakang. Mereka merasa lebih
nyaman ketika dakwah ini belum berhadapan langsung dengan masyarakat secara
terbuka. Inilah bencana yang bisa
terjadi kepada dakwah manakala aspek kualitas diabaikan.Lunturnya akhlak islami Lemahnya tarbiyah berarti melemahnya ziyadah (penambahan atau
pembekalan), nas’ah (pertumbuhan), taghdiyyah (pemberian gizi), ri’ayah
(pemeliharaan), dan muhafadzoh (penjagaan) terhadap iman, ilmu, dan amal.
Gejalanya terlihat dari lunturnya akhlak. Munculnya
fenomena-fenomena kejanggalan akhlak atau suluk di kalangan aktivis dakwah
selain karena faktor-faktor manusiawi, sesungguhnya berawal juga dari lemahnya
tarbiyah. Sebagai contoh, ada kader yang terlalu berlebih-lebihan dalam hal
yang mubah sehingga tergiring kepada hal-hal yang syubhat, sikap wara’, iffah,
dan menjaga muru’ah dalam beberapa hal melemah; hijab menjadi semakin longgar;
dan lain sebagainya.
Kejanggalan-kejanggalan
akhlak tersebut insya Allah akan dapat diminimalisir jika tarbiyah berjalan
dengan baik. Kader dakwah hendaknya mampu mengendalikan dirinya agar selalu
berpegang teguh pada aqidah, akhlak, dan syariah Islam. Namun untuk itu bukan
berarti ia harus menjadi orang kaku atau aneh di tengah-tengah umat. Akan
tetapi hendaknya ia mampu menempatkan dirinya secara proporsional tanpa harus
melanggar aqidah, akhlak, dan syariah Islam. Melemahnya kekokohan ideologi Tarbiyah adalah pewarisan ide. Tentu saja bukan sekedar
proses pemindahan ‘isi kepala’ murabbi ke dalam kepala mutarabbi, tapi lebih
jauh dari itu tarbiyah sesungguhnya adalah proses menghidupkan ruh, akal, dan
jasad agar selalu bergerak mewujudkan cita-cita dan idealisme dalam
kehidupan.Lemahnya tarbiyah berarti
lemahnya proses pewarisan ide; mandegnya proses kebangkitan ruh, akal, dan
jasad dengan shibghah Islam. Dalam situasi seperti itu virus-virus aqidah dan
fikrah beserta polutan-polutan ideologi menyimpang tentu sangat mudah
menggerogoti kefitrahan ruh, akal, dan jasad.
Penyimpangan orientasi atau lupa terhadap tujuan dan cita-cita Dalam kondisi ruh yang
berpenyakit, kualitas diri yang rendah, lunturnya akhlak, dan melemahnya
kekokohan ideologi, janganlah heran jika pada akhirnya seorang kader dakwah
menjadi lupa pada orientasi perjuangannya. Obsesinya berubah, kebanggaannya
berubah, cita-citanya merendah, dan geraknya pun jadi semakin lamban. Akhirnya
lama-kelamaan ia mulai mundur teratur, pamit dari gelanggang dakwah, kemudian
asyik dengan dunia barunya. Kini ia telah lupa dengan cita-cita raksasa yang
pernah bersemayam di dalam jiwanya. Dapat disimpullkan bahwa sebagian besar dampak dari dha’fut tarbiyyah adalah
menurunnya kualitas kader, kualitas ini berkaitan erat dengan muashofat kader
tarbiyyah yang sekurang-kurangnya disebutkan ada 10 syarah muwashofat. Dilihat
dari besarnya medan dakwah saat ini maka khalaqah atau liqo masih belum bisa
menanamkan muashofat tarbiyyah kepada binaan-binaannya, intensitas yang kurang
serta sistem liqo, khalaqah atau mentoring yang fluktuatif serta kurang
sistematif menjadi faktor sulitnya menanamkan muashofat kader, maka solusi konkritnya adalah kita
mengaktualisasikan kembali fungsi dari kosbin sebagai tempat pengkaderan yang
strategis.
Abbas As-siisiy dalam bukunya “bagaimana
menyentuh hati” menegaskan bagaimana Rasulullah SAW sangan menjujung tinggi
karakter keislaman tatkala adas datang kepada rasulullah dengan senampan anggur
lalu berkata“makanlah”Rasulullah memulai langkah pertamanya dengan
mengucapkan “bismillahirrahmanirrahim”, lalu memakannya. Adas lalu berkata
“Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negri ini”, Rasul berkata
“wahai adas kamu berasal darimana dan apa agamamu? ”adas menjawab“ saya
beragama nasrani, saya dari negri ninawai.” Adas berkata “apa yang anda ketahui
tentang Yunus bin matta?“dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi”.
Mendengar jawaban tersebut adas angsung memeluk nabi dan masuk kedalam
ajarannya.
Disinilah terlihat pentingnya menonjolkan
karakteristik islam, seandainya rasul tidak mengucapkan basmallah, maka mungkin
Adas tidak akan pernah bertanya dan masuk islam. Selain itu dengan Rasulullah
memanggil Adas dengan Nama serta menjunjung Yunus menjadikan hati Adas
tersentuh dan tertarik. Contoh yang sangat sederhana dari sepotong episode
kehidupan Rasulullah sangat memberikan pelajaran bagaimana karakter merupakan
hal yang sangat penting dalam berdakwah (As-siisiy, 2017)
Kos binaan dirasa dapat
membentuk karakter tersebut. Kos binaan merupakan kos yang jumlahnya relatif
banyak dan tersebar di kawasan kampus kampus
negri. Kos binaan di Purwokerto dikelola
oleh sebuah lembaga bernama Rumah Teladan
Mahasiswa (RTM) yang masih memiliki alur koordinasi dengan Lembaga Dakwah
Kampus. Kosbin ini
merupakan kos yang dikhususkan untuk mahasiswa beragama Islam. Kosbin tidak
hanya sebagai tempat tinggal saja, namun juga memberikan pendidikan tentang
ajaran Islam bagi yang menempatinya. Kos binaan terbagi menjadi dua jenis,
yaitu Kos Ikhwan dan Kos Akhwat. Kos Ikhwan berarti bahwa kos tersebut
merupakan kos yang diperuntukkan bagi laki-laki dan Kos Akhwat berarti bahwa
kos tersebut diperuntukkan bagi perempuan.
Urgensi pendidikan dalam lembaga yang humanis serta perlunya
dilakukan reaktualisasi peran pendidikan Islam dengan segala komponen-komponen
pendidikan sangat dibutuhkan agar dapat mewujudkan pendidikan humanistik
(Mujahidun, 2012). Rumah Teladan
Mahasiswa juga secara khusus mengajarkan tentang nilai-nilai dalam ajaran
Islam. Mahasiswa laki-laki yang umumnya dianggap oleh masyarakat lebih bebas,
seolah dibentuk untuk mematuhi aturan yang berlaku di Rumah Teladan Mahasiswa. Meria (2012) menyatakan bahwa
pendidikan Islam merupakan upaya strategis dalam membentuk pribadi manusia.
Pemberlakuan berbagai aturan dan kegiatan-kegiatan di dalam kos sebagai bentuk
kebijakan yang didefinisikan oleh Rumah Teladan Mahasiswa nyatanya tidak memengaruhi banyaknya
mahasiswa yang tetap memilih untuk menempati kos binaan.
Nilai-nilai keislaman yang ditanamkan di kosbin berkaitan dengan nilai-nilai dasar Islam yang
wajib dimiliki oleh setiap umat Islam. Nilai-nilai keislaman yang ditanamkan di
Rumah Teladan Mahasiswa lebih mengarah kepada bagaimana membentuk akhlak
sebagai seorang muslim.Rumah Teladan Mahasiswa
mempunyai fungsi sebagai wahana bagi kader-kader untuk membentuk muawhofat tharbiyah.
Penanaman nilai-nilai keislaman melalui berbagai kajian-kajian yang diberikan
didalam kos binaan dapat membentuk kepribadian sebagai seorang muslim atau
akhlakul karimah yang lebih bersifat aplikatif atau penerapan. Pemberlakuan
aturan-aturan khusus yang didasarkan pada adab Islami juga merupakan upaya
penanaman nilai-nilai keislaman secara langsung. Penghuni kos binaan diharapkan memiliki sikap dan
perilaku yang baik melalui pembinaan dalam kajian-kajian yang sebelumnya lebih
bersifat kognitif atau wawasan. Wawasan keislaman yang diterima oleh kader dalam kegiatan kos binaan dapat
membentuk kebiasaan yang mengacu pada keteraturan hidup (Utomo, dkk,2015) dengan mengedepankan etika yang sesuai dengan
tuntunan agama dan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Pembentukan karakter dapat terlihat dalam kehidupan
sehari-hariterhadap
kader-kadernya. Sikap dan perilaku sebagai seorang muslim
yang berakhlakul karimah oleh kader-kader kos
binaan terlihat dari nilai-nilai keislaman yang diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, yaitu
dengan tidak memotong pembicaraan, bertutur kata yang baik, serta tidak
mengghibah atau menggunjing orang lain saat sedang mengobrol.
Aturan-aturan
yang diberlakukan bagi kader kos
juga merupakan bagian dari pembinaan untuk membentuk akhlakul karimah dengan
menjalankan perintah dan anjuran agama Islam serta menjauhi larangan-larangan
dalam agama Islam. Aturan yang diberlakukan bagi penghuni kos binaan, seperti
menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan
adalah perwujudan etika yang terdapat dalam ajaran agama Islam serta penghuni kos binaan juga dilarang mendekati
zina yang dapat membawa kemudharatan atau pengaruh buruk bagi diri sendiri
maupun orang lain. Sebagai Media untuk Memproteksi kader dari Pergaulan Bebas.
Maka kosbin menjadi
sarana yang pas dalam membentuk muashofat tarbiyyah yang nantinya sangat
bermanfaat dan penting dalam keberlangsungan jalan dakwah. pendidikan
mempunyai peranan yang relatif penting untuk memberikan pemahaman dan benteng
pertahanan kepada anak agar terhindar dari jeratan negatif media massa. Rumah
Teldan Mahasiswa memberikan perlindungan atau proteksi terhadap
santri-santrinya. Perlindungan yang diberikan adalah berupa lingkungan yang
kondusif. Lingkungan kondusif ini didukung oleh program-program keagamaan serta
pemberlakuan aturan-aturan yang berkaitan dengan nilai-nilai keislaman yang
diberikan kepada penghuni-penghuni kos
binaan. Pembentukan lingkungan yang kondusif dengan iklim keagamaan merupakan
upaya untuk menjaga pergaulan penghuni kos
binaan agar terhindar dari pergaulan bebas dan merosotnya moral yang dapat
menjadi penghambat dalam berdakwah.
Dengan memaksimalkan fungsi Kos binaan
dapat mencetak kader-kader berkarakter yang nantinya lebih mantap berada di
medan dakwah. Proses pendataan dan perekrutan kader untyk regenerasi menjadi
lebih rapih dan tertata seta lebih terjaga wajihah-wajihah kadernya. Sudah
saatnya kita mengevaluasai keberjalanan Kos Binaan yang ada di kampus Unsoed
dan mengaktualisasikan kembali fungsi, sistem serta teknis keberjalanannya.
Mari segera tekadkan dalam
diri untuk meningkatkan kualitas tarbiyah kita. Jangan jadikan dha’fut tarbiyah
menjadi bahaya laten bagi gerakan dakwah. Bukankah kita ingin menjadi golongan
rabbaniyyin?
“Tidak wajar bagi seseorang
manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia
berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan
penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan
kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79).
Sumber :
Achmad, R. Y. 2010 . Menuju Kampus Madani. Ideashpere Books:
Bandung
As-Siisiy, A. 2017. Bagaimana Menyentuh Hati. Era Adicitra
Intermedia: Surakarta
Meria, Aziza. 2012. Pendidikan Islam di Era
Globalisasi Dalam Membangun Karakter Bangsa.
Dalam Jurnal Al-Ta’lim, Jilid 1 No. 1 hal. 87-92
Mujahidun. 2012. Internalisasi Pendidikan
Humanistik (Reaktualisasi Peran Lembaga Pendidikan
Islam). Jurnal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang.
Vol 3 No. 1


