#AyokBercerita Cerita Ku untuk Mu Cerita Mu untuk Ku

Rabu, 04 Maret 2020

MENGATASI DHA’FUT TARBIYYAH MELALUI REAKTUALISASI KOSBIN SEBAGAI SARANA MEMBANGUN MUWASHOFAT KADER



“Kegiatan-kegiatan keseharian Kosbin ibarat asupan sehari-hari kader yang dapat menjaga badan tetap sehat dan memberikan energi untuk bergerak. Maka Liqo, khalaqah, mentoring serta kegiatan keislaman lainya menjadi suplemen tambahan untuk menambah stamina kader dalam berdakwah”.

Misi Islam adalah membebaskan manusia dari segala bentuk pengabdian kepada makhluk, kemudian menjadi pengabdi Allah SWT semata yang diwujudkan dengan tunduk kepada sistem Islam dan syariat Allah, sehingga seluruh manusia bernaung di bawah panji Islam dan kepemimpinan dipegang oleh umat Islam demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu misi utama dakwah adalah risalatut taghyir (melakukan perubahan). Mengubah kehidupan manusia sehingga sejalan dengan tuntutan Islam, baik pada tingkatan individu maupun tingkatan kolektif. Dengan begitu akan terwujud tatanan hayatun thayyibah (kehidupan yang baik). Upaya mewujudkan perubahan tersebut, pada pokoknya bersandar pada perubahan unsur manusianya. Manusialah unsur inti kehidupan. Oleh karena itu, dakwah Islam pada misinya yang pokok adalah bagaimana membentuk manusia-manusia yang berkepribadian Islam. Inilah yang dikenal sebagai tarbiyah Islamiyah, manhaj Rabbani yang menjadi jalan para rasul dalam mencetak bukan saja pionir dakwah, tetapi juga masyarakat baru Islam. 
Gerakan dakwah kita menempatkan tarbiyah sebagai munthalaq (titik tolak) semua aktivitas dakwah, dan menempatkan SDM kader dakwah sebagai rashidul harakah (aset utama gerakan). Kader merupakan output utama dari aktivitas tarbiyah. Pembesaran kekuatan inti gerakan dakwah ini terletak pada pertumbuhan kader-kadernya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Selain bentuk tarbiyah yang berorientasi pada pencetakan kader (tarbiyah nukhbawiyah), kita pun melakukan tarbiyah jamahiriyah, yaitu proses penyadaran dan pembinaan keislaman masyarakat secara umum dan masif. Karena dari sudut pandang siyasatu dakwah, membangun dan terus memperbesar dukungan qaidah ijtimaiyyah (basis sosial) menjadi sebuah keniscayaan. Dakwah membutuhkan masyarakat yang secara sadar dan faham memberikan loyalitasnya kepada Islam dan dakwah Islam. Selain itu, tarbiyah jamahiriyyah juga diharapkan dapat menyumbangkan bahan baku bagi tarbiyah nukhbawiyah.
Kedudukan tarbiyah yang sangat strategis seperti itu hendaknya menyadarkan kita bahwa keberlangsungan program tarbiyah wajib dijaga dengan penuh kedisiplinan. Elemen tarbiyah dalam struktur dakwah harus mengawal aktivitas ini dan memastikan bahwa seluruh elemen dibawahnya mampu melaksanakan manhaj tarbiyah dengan penuh disiplinLemahnya aktivitas tarbiyah sudah dipastikan akan menimbulkan berbagai penyakit dan kelemahan. Ibarat tanaman yang tak pernah disiram atau dipupuk secara tepat dan teratur, gerakan dakwah akan mudah terserang berbagai penyakit, melemah, dan akhirnya mati, kemudian tidak memberi manfaat sama sekali kepada umat. Bahkan menjadi sampah yang menodai keindahan dan kemolekan Islam.Ustadz Fathi Yakan dalam bukunya “Robohnya Dakwah Di tangan Da’I” menyebutkan bahwa salah satu penyebab hancurnya berbagai kelompok Islam adalah dha’fut tarbiyah (lemahnya tarbiyah). Munculnya fenomena ini menurutnya dapat disebabkan beberapa faktor: (1) Kekurangan dalam manhaj tarbawi, (2) Lemahnya kapasitas murabbi, (3) Rapuhnya strategi atau pincangnya langkah pengaturan kerja, misalnya satu bidang kerja mendapatkan porsi perhatian lebih banyak dari bidang yang lain, (4) Terseretnya gerakan Islam ke dalam pertikaian yang tidak membawa faedah apa pun, (5) Terkurasnya potensi gerakan Islam dalam sejumlah proyek yang dari segi urgensi maupun skala prioritasnya bukan termasuk urutan pertama. (Yakan, 2011)
Dha’fut tarbiyah juga berpengaruh pada menurunnya kualitas kader. Padahal pertumbuhan kualitas sangatlah dibutuhkan seiring dengan tantangan medan dakwah yang semakin berat dari waktu ke waktu. Ridwansyah Yusuf Ahmad dalam bukunya “ Menuju Kampus Madani” menegaskan bahwa kualitas kader dalam kehidupan dakwah harus senantiasa mengikuti kebutuhan marhaliah dan mihwar dakwah. Semakin meningkat marhalah dan semakin meluas mihwar dakwah, maka kualitas kader pun dituntut untuk semakin berkembang. Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan muncul bencana bagi dakwah. Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu istiqamah di dalam mengikuti irama perjalanan dakwah yang dinamis. Ia akan tersibukkan oleh problem-problem personal dan terjauhkan dari aktifitas dakwah. Kedua, munculnya sebagian kader yang menginginkan kehidupan dakwah sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi enggan ketika perjalanan dakwah ini begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang banyak. Mereka cenderung menjadi orang yang ingin ‘hidup dari dakwah’ dan bukan ‘menghidupi dakwah’. 
Ketiga, munculnya ketidakmampuan di dalam menjalankan misi dakwah di tengah-tengah masyarakat. Ini karena daya dukung dan daya topang yang dimiliki kader semacam ini tidak seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan dakwah yang semakin terbuka. Keempat, akibat dari ketiga hal ini, dakwah menjadi disibukkan oleh problematika internal yang menguras energy dakwah, sehingga tidak mampu menjalankan misi-misi perubahan secara efektif. Padahal misi utama dakwah adalah melakukan perubahan dan perbaikan secara nyata. Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan antara harapan besar masyarakat dengan apa yang bisa diberikan oleh dakwah. Lalu terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi. Krisis ini bisa jadi diperamai oleh sejumlah kasus-kasus negative yang muncul ke permukaan. 
Keenam, pada saat semacam itulah, akan muncul pikiran di sebagian kader yang lemah, untuk menarik kembali dakwah ke belakang. Mereka merasa lebih nyaman ketika dakwah ini belum berhadapan langsung dengan masyarakat secara terbuka. Inilah bencana yang bisa terjadi kepada dakwah manakala aspek kualitas diabaikan.Lunturnya akhlak islami Lemahnya tarbiyah berarti melemahnya ziyadah (penambahan atau pembekalan), nas’ah (pertumbuhan), taghdiyyah (pemberian gizi), ri’ayah (pemeliharaan), dan muhafadzoh (penjagaan) terhadap iman, ilmu, dan amal. Gejalanya terlihat dari lunturnya akhlak. Munculnya fenomena-fenomena kejanggalan akhlak atau suluk di kalangan aktivis dakwah selain karena faktor-faktor manusiawi, sesungguhnya berawal juga dari lemahnya tarbiyah. Sebagai contoh, ada kader yang terlalu berlebih-lebihan dalam hal yang mubah sehingga tergiring kepada hal-hal yang syubhat, sikap wara’, iffah, dan menjaga muru’ah dalam beberapa hal melemah; hijab menjadi semakin longgar; dan lain sebagainya.
Kejanggalan-kejanggalan akhlak tersebut insya Allah akan dapat diminimalisir jika tarbiyah berjalan dengan baik. Kader dakwah hendaknya mampu mengendalikan dirinya agar selalu berpegang teguh pada aqidah, akhlak, dan syariah Islam. Namun untuk itu bukan berarti ia harus menjadi orang kaku atau aneh di tengah-tengah umat. Akan tetapi hendaknya ia mampu menempatkan dirinya secara proporsional tanpa harus melanggar aqidah, akhlak, dan syariah Islam. Melemahnya kekokohan ideologi Tarbiyah adalah pewarisan ide. Tentu saja bukan sekedar proses pemindahan ‘isi kepala’ murabbi ke dalam kepala mutarabbi, tapi lebih jauh dari itu tarbiyah sesungguhnya adalah proses menghidupkan ruh, akal, dan jasad agar selalu bergerak mewujudkan cita-cita dan idealisme dalam kehidupan.Lemahnya tarbiyah berarti lemahnya proses pewarisan ide; mandegnya proses kebangkitan ruh, akal, dan jasad dengan shibghah Islam. Dalam situasi seperti itu virus-virus aqidah dan fikrah beserta polutan-polutan ideologi menyimpang tentu sangat mudah menggerogoti kefitrahan ruh, akal, dan jasad. 
Penyimpangan orientasi atau lupa terhadap tujuan dan cita-cita Dalam kondisi ruh yang berpenyakit, kualitas diri yang rendah, lunturnya akhlak, dan melemahnya kekokohan ideologi, janganlah heran jika pada akhirnya seorang kader dakwah menjadi lupa pada orientasi perjuangannya. Obsesinya berubah, kebanggaannya berubah, cita-citanya merendah, dan geraknya pun jadi semakin lamban. Akhirnya lama-kelamaan ia mulai mundur teratur, pamit dari gelanggang dakwah, kemudian asyik dengan dunia barunya. Kini ia telah lupa dengan cita-cita raksasa yang pernah bersemayam di dalam jiwanya. Dapat disimpullkan bahwa sebagian besar dampak dari dha’fut tarbiyyah adalah menurunnya kualitas kader, kualitas ini berkaitan erat dengan muashofat kader tarbiyyah yang sekurang-kurangnya disebutkan ada 10 syarah muwashofat. Dilihat dari besarnya medan dakwah saat ini maka khalaqah atau liqo masih belum bisa menanamkan muashofat tarbiyyah kepada binaan-binaannya, intensitas yang kurang serta sistem liqo, khalaqah atau mentoring yang fluktuatif serta kurang sistematif menjadi faktor sulitnya menanamkan muashofat kader, maka solusi konkritnya adalah kita mengaktualisasikan kembali fungsi dari kosbin sebagai tempat pengkaderan yang strategis.
Abbas As-siisiy dalam bukunya “bagaimana menyentuh hati” menegaskan bagaimana Rasulullah SAW sangan menjujung tinggi karakter keislaman tatkala adas datang kepada rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata“makanlah”Rasulullah memulai langkah pertamanya dengan mengucapkan “bismillahirrahmanirrahim”, lalu memakannya. Adas lalu berkata “Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negri ini”, Rasul berkata “wahai adas kamu berasal darimana dan apa agamamu? ”adas menjawab“ saya beragama nasrani, saya dari negri ninawai.” Adas berkata “apa yang anda ketahui tentang Yunus bin matta?“dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi”. Mendengar jawaban tersebut adas angsung memeluk nabi dan masuk kedalam ajarannya.
Disinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik islam, seandainya rasul tidak mengucapkan basmallah, maka mungkin Adas tidak akan pernah bertanya dan masuk islam. Selain itu dengan Rasulullah memanggil Adas dengan Nama serta menjunjung Yunus menjadikan hati Adas tersentuh dan tertarik. Contoh yang sangat sederhana dari sepotong episode kehidupan Rasulullah sangat memberikan pelajaran bagaimana karakter merupakan hal yang sangat penting dalam berdakwah (As-siisiy, 2017)
Kos binaan dirasa dapat membentuk karakter tersebut. Kos binaan merupakan kos yang jumlahnya relatif banyak dan tersebar di kawasan kampus kampus negri. Kos binaan di Purwokerto dikelola oleh sebuah lembaga bernama Rumah Teladan Mahasiswa (RTM) yang masih memiliki alur koordinasi dengan Lembaga Dakwah Kampus. Kosbin ini merupakan kos yang dikhususkan untuk mahasiswa beragama Islam. Kosbin tidak hanya sebagai tempat tinggal saja, namun juga memberikan pendidikan tentang ajaran Islam bagi yang menempatinya. Kos binaan terbagi menjadi dua jenis, yaitu Kos Ikhwan dan Kos Akhwat. Kos Ikhwan berarti bahwa kos tersebut merupakan kos yang diperuntukkan bagi laki-laki dan Kos Akhwat berarti bahwa kos tersebut diperuntukkan bagi perempuan.
Urgensi pendidikan dalam lembaga yang humanis serta perlunya dilakukan reaktualisasi peran pendidikan Islam dengan segala komponen-komponen pendidikan sangat dibutuhkan agar dapat mewujudkan pendidikan humanistik (Mujahidun, 2012). Rumah Teladan Mahasiswa juga secara khusus mengajarkan tentang nilai-nilai dalam ajaran Islam. Mahasiswa laki-laki yang umumnya dianggap oleh masyarakat lebih bebas, seolah dibentuk untuk mematuhi aturan yang berlaku di Rumah Teladan Mahasiswa. Meria (2012) menyatakan bahwa pendidikan Islam merupakan upaya strategis dalam membentuk pribadi manusia. Pemberlakuan berbagai aturan dan kegiatan-kegiatan di dalam kos sebagai bentuk kebijakan yang didefinisikan oleh Rumah Teladan Mahasiswa nyatanya tidak memengaruhi banyaknya mahasiswa yang tetap memilih untuk menempati kos binaan.
Nilai-nilai keislaman yang ditanamkan di kosbin berkaitan dengan nilai-nilai dasar Islam yang wajib dimiliki oleh setiap umat Islam. Nilai-nilai keislaman yang ditanamkan di Rumah Teladan Mahasiswa lebih mengarah kepada bagaimana membentuk akhlak sebagai seorang muslim.Rumah Teladan Mahasiswa mempunyai fungsi sebagai wahana bagi kader-kader untuk membentuk muawhofat tharbiyah. Penanaman nilai-nilai keislaman melalui berbagai kajian-kajian yang diberikan didalam kos binaan dapat membentuk kepribadian sebagai seorang muslim atau akhlakul karimah yang lebih bersifat aplikatif atau penerapan. Pemberlakuan aturan-aturan khusus yang didasarkan pada adab Islami juga merupakan upaya penanaman nilai-nilai keislaman secara langsung. Penghuni  kos binaan diharapkan memiliki sikap dan perilaku yang baik melalui pembinaan dalam kajian-kajian yang sebelumnya lebih bersifat kognitif atau wawasan. Wawasan keislaman yang diterima oleh kader dalam kegiatan kos binaan dapat membentuk kebiasaan yang mengacu pada keteraturan hidup (Utomo, dkk,2015)  dengan mengedepankan etika yang sesuai dengan tuntunan agama dan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Pembentukan karakter dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hariterhadap kader-kadernya. Sikap dan perilaku sebagai seorang muslim yang berakhlakul karimah oleh kader-kader kos binaan terlihat dari nilai-nilai keislaman yang diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, yaitu dengan tidak memotong pembicaraan, bertutur kata yang baik, serta tidak mengghibah atau menggunjing orang lain saat sedang mengobrol.
Aturan-aturan yang diberlakukan bagi kader kos juga merupakan bagian dari pembinaan untuk membentuk akhlakul karimah dengan menjalankan perintah dan anjuran agama Islam serta menjauhi larangan-larangan dalam agama Islam. Aturan yang diberlakukan bagi penghuni kos binaan, seperti menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan adalah perwujudan etika yang terdapat dalam ajaran agama Islam serta penghuni kos binaan juga dilarang mendekati zina yang dapat membawa kemudharatan atau pengaruh buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebagai Media untuk Memproteksi kader dari Pergaulan Bebas.
Maka kosbin menjadi sarana yang pas dalam membentuk muashofat tarbiyyah yang nantinya sangat bermanfaat dan penting dalam keberlangsungan jalan dakwah. pendidikan mempunyai peranan yang relatif penting untuk memberikan pemahaman dan benteng pertahanan kepada anak agar terhindar dari jeratan negatif media massa. Rumah Teldan Mahasiswa memberikan perlindungan atau proteksi terhadap santri-santrinya. Perlindungan yang diberikan adalah berupa lingkungan yang kondusif. Lingkungan kondusif ini didukung oleh program-program keagamaan serta pemberlakuan aturan-aturan yang berkaitan dengan nilai-nilai keislaman yang diberikan kepada penghuni-penghuni kos binaan. Pembentukan lingkungan yang kondusif dengan iklim keagamaan merupakan upaya untuk menjaga pergaulan penghuni kos binaan agar terhindar dari pergaulan bebas dan merosotnya moral yang dapat menjadi penghambat dalam berdakwah.
Dengan memaksimalkan fungsi Kos binaan dapat mencetak kader-kader berkarakter yang nantinya lebih mantap berada di medan dakwah. Proses pendataan dan perekrutan kader untyk regenerasi menjadi lebih rapih dan tertata seta lebih terjaga wajihah-wajihah kadernya. Sudah saatnya kita mengevaluasai keberjalanan Kos Binaan yang ada di kampus Unsoed dan mengaktualisasikan kembali fungsi, sistem serta teknis keberjalanannya.
Mari segera tekadkan dalam diri untuk meningkatkan kualitas tarbiyah kita. Jangan jadikan dha’fut tarbiyah menjadi bahaya laten bagi gerakan dakwah. Bukankah kita ingin menjadi golongan rabbaniyyin? 
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79).

Sumber : 
Achmad, R. Y. 2010 . Menuju Kampus Madani. Ideashpere Books: Bandung
As-Siisiy, A. 2017. Bagaimana Menyentuh Hati. Era Adicitra Intermedia: Surakarta
Meria, Aziza. 2012. Pendidikan Islam di Era Globalisasi Dalam Membangun Karakter Bangsa.
Dalam Jurnal Al-Ta’lim, Jilid 1 No. 1 hal. 87-92
Mujahidun. 2012. Internalisasi Pendidikan Humanistik (Reaktualisasi Peran Lembaga Pendidikan
Islam). Jurnal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang. Vol 3 No. 1


Belajar Memimpin dari Cerita Sang Kala


               Pemimpin adalah orang yang memegang kekuasaan dan sebagai pengemban amanah dari hal yang dipimpinnya. Dalam menjalanin kempemimpinan,  belajar dari kesalahan sebelumnya dan berusaha menjalankan amanah dengan baik merupakan cara yang bijak, karena tidak ada kepemimpinan yang sempurna sama halnya seperti manusia. Lalu, bagaimanakah pemimpin yang seharusnya?
            Kita mulai dari Nicolae Ceausescu, presiden Rumania yang lebih tepat disebut raja yang lalim. Sangat berkuasa, otoriter dan diktator, yang dengan tentara rahasianya, bisa mengetahui hampir setiap gerrak-gerik warga negara. Nicolae berakhir dengan tragis. Setelah rakyat menyerbu istana, dia dan istrinya diseret dan harus mati di tangan rakyatnya. Berhasil dijatuhkan tapi untuk kejatuhannya, Rumania harus mengorbankan puluhan ribu rakyatnya dalam satu revolusi berdarah.
            Ferdinand Marcos di Filipina. Memulai karir sebagai pengacara yang gemilang, hingga menjadi tumpuan harapan bangsa di filipina. Memerintah selama beberapa dekade, namun berakhir dengan terusir dari negrinya, setelah gerakan masa dipimpin oleh istri dari lawan politik yang elah dibunuhnya, meraih dukungan rakyat. Bahkan setelah matinya pun, jasadnya sempat dotolak oleh negaranya sendiri.
            Alberto Fujimori, seorang minoritas keturunan Jepang, berhasil menjadi presiden Peru dengan dukungan luas. Memulai denga kampanye keliling negara untuk kemajuan pembangunan, pembebasan korupsi dan berbagai janji lain. Masa pemerintahannya berakhir saat dia mengunjungi negara leluhurnya Jepang dan meninggalkan isu korupsi yang dituduhkan kepadanya.
            Lalu, ada estrada di filipina. Sebelumnya terkenal sebagai bintang film yang paling dipuja, hingga akhirnya mendapat mandat memimpin negara. Belakangan ia dipaksa mundur oleh ratusan ribu orang yang demo turun ke jalan. Mantan orang terkuat itupun jatuh dan harus meninggalkan negaranya.
            Tak perlu jauh melihat ke sana, di Indonesia ada Soeharto yang berkuasa yang ditakuti selama tiga dawarsa, yang kemudian berakhir kepemimpinannya dengan hujatan, caci maki dan berbagai hinaan, persis seperti pendahulu sebelumnya, Presiden Soekarno yang sempat di daulat sebagai presiden seumur hidup.
            Darinya kita belajar, bahwa orang-orang yang  hanya haus akan kekuasaan dan jabatan hanya akan berakhir pada penyesalan yang menggigit. Bahwa salah sedikit saja kita memilih pemimpin, maka hasilnya tidak akan jauh dari mereka. Inilah saatnya kita memilih pemimpin dengan kehati-hatian, ketelitian dan pertimbangan yang matang. Jika saya disuruh memilih pemimpin yang ideal, mereka bukanlah orang yang tepat. Lagi-lagi bagaimanakah pemimpin yang seharusnya?
            Ada seorang yang bernama Muhammad yang memulai dengan segala kesederhanaan, kejujuran dan kesungguhan, yang kepemimpinannya berakhir dengan kecintaa, kedamaian, dan kemajuan yang tak pernah hilang di hapus masa. Ada Umar bin Khatab yang memulai dengan ketegasan, kearifan dan keberpihakan  kepada kebenaran yang berakhir dengan tegaknya keadilan, dan kesetaraan hukum bagi semua rakyatnya. Lalu, Umar bin Abdul Aziz yang memulai dengan ketakwaan dan mengakhiri dua tahun pemerintahannya dengan pencapaian yang sangat gemilang. Di Indonesia ada Jendral Soedirman, yang dengan kewibawaan, keimanan, keberanian dan semangat yang tiada padamnya memimpin perang gerilnya dan berakhir dengan penuh kecintaan dan kehormatan, yang mewariskan semangat perjuangan hingga saat ini.
            Merekalah para pemimpin yang ideal dengan versi dan cara mereka masing-masing, yang dengan berbagai macam karakter mampu memimpin anggotanya dengan kesungguhan, kewibawaan, dan semangat yang menular.  Pemimpin yang ideal bukanlah mereka yang harus menjadi ini atau itu. Tapi pemimpin yang ideal adalah mereka yang dengan semangat dan karakternya mampu memimpin dengan warna yang bisa diterima oleh anggotanya, bahkan dijadikan panutan.


Kamis, 26 Mei 2016

Seputih Kolam Susu

Ini adalah sepenggal impian hidupku dalam sembilan tahun kedepan yang kurangkum dalam sebuah skeario amatiran, yang tentunya dengan penuh kekurangan dan harus di sunting kembali oleh Sang “Maha Sutradara” yang penuh kesempurnaan dan tiada salah. 

Namaku Zaenab Nurul Jannah, Mahasiswa Baru Universitas Jendral Soedirman jurusan Perternakan. Ketika ku lulus di tahun 2019 sebagai lulusan tercepat dan mendapat predikat cumlaude, aku akan membangun perternakan terbesar di dunia yang ada di setiap provinsi untuk memasok kebutuhan pangan di seluruh penjuru wilayah Indonesia, sehingga bangsa kita tidak perlu repot lagi untuk memasok hewan-hewan ternak dari manca negara. Selain itu, aku juga akan menjadikan Unsoed sebagai pusat penelitian dan pengembangan hewan ternak terbesar dan terbaik di Indonesia dan menjadikan Fakultas Perternakan Unsoed yang terbaik di dunia. Aamiin.. 

Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang luas, penduduk yang banyak, dan konon katanya memiliki tanah surga dan kolam susu, yang tentunya itu bukanlah sekedar lagu koes plus saja, namun memang nyata adanya. Potensi Indomesia yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia memang harus dimanfaatkan untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. Tanah yang luas dapat kita manfaatkan untuk lahan perternakan serta lahan pertanian yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Selain itu, pekerjaan berternak yang tidak terlalu membutuhkan pedidikan yang tinggi dapat kita manfaatkan guna mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia, melalui pelatihan skil, dan pembekalan materi yang tidak membutuhkan waktu yang lama.

Dengan diadakannya MEA ini, aku akan menjaring berbagai investor investor asing maupun lokal sebagai pemasok modal untuk usaha ini. Selanjutnya, aku akan membeli lahan-lahan strategis yang luas dan tersedia perairan untuk berternak. Ayam, Sapi, Kambing, Kerbau dan Domba adalah hewan utama dalam bisnis ini, hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat akan hewan tersebut sangatlah tinggi, apalagi kita semua tahu bahwa Kambing, Kerbau, Sapi, dan Domba akan sangat tinggi peminatnya bagi orang muslim di dunai untuk merayakan Hari Raya Qurban.

Maka dari itu, penelitian yang baik sangat dibutuhkan untuk menjamin kualitas hewan serta perhitungan ketepatan panen agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Usaha ini akan berjalan beriringan dengan dikembangakannya pusat penelitian perternakan di Unsoed, selama itu pula aku akan mengadakan study banding ternak di berbagai maca negara untuk mendapatakn pengetahuan lebih agar hasil yang didapatkan bisa maksimal. Setelah itu, seiring berjalannya bisnis ini, aku akan bekerjasama dengan pemerintah, agar mengurangi impor daging maupun hewan ternak dari manca negara hingga akhirnya pengimporanpun di hentikan, dan haluan akan berbalik, Indonesialah yang akan menjadi pemasok daging dan hewan ternak ke berbagai negara asing. 

Dunia pun akan tertuju pada Indonesia melihat keberhasilan yang dicapai dari pengimpor hingga pengekspor, hal inilah yang akan dimanfaatkan untuk menjaring berbagai investor lagi guna membangun usaha ini menjadi lebih besar. Unsoed yang berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan hewan ternak dalam usaha ini akan lebih dikenal oleh berbagai universitas di luar negeri, kerjasama dilakukan antar universitas, yang nantinya bisa berdampak positif bagi para pelajar Unsoed sendiri, mulai dari beasiswa maupun berbagai kegiatan seperti student exchange, study banding dan lain-lain yang nantinya Unsoed tidak hanya bersaing di nasional tapi juga internasional. 

Usaha ini pun berjalan dengan baik, seluruh penjuru negri kita kaya akan hasil ternaknya yang melimpah, sehingga Indonesia akan lebih dikenal lagi oleh seluruh dunia, kali ini tidak hanya Bali saja yang terkenal, namun Indonesia juga terkenal akan penghasil ternaknya yang besar, kali ini kita adalah negeri dengan kolam susu yang melimpah, menunjukan bahwa lagu koes plus yang satu ini memang nyata adanya. Seluruh warga negara Indonesia dapat menikmati segarnya segelas susu setiap hari, daging bukan lagi makana para orang-orang kaya, tetapi makanan mewah yang dapat dibeli oleh seluruh warga Indonesia. Dengan begitu, tidak ada lagi kasus gizi buruk di negeri ini, karna semua bisa membil daging, semua gizi anak Indonesia terpenuhi, yang nantinya dapat berpengaruh pada proses belajar mengajar dan menciptakan lebih banyak lagi insan-insan emas untuk tanah air tercinta. 

Begitu banyak manfaat dari berternak jika kita ingin menjalankannya dengan penuh kesabaran, keuletan dan usaha yang keras namun tetap santai dan penuh pengharapan pada sang maha kuasa. Berternak bukanlah hal yang sepele, begitu banyak manfaatnya bagi negri maupun dunia ini. Dari berternak, kita dapat memajukan Indonesia, memberantas gizi buruk, membasmi pengangguran, meningkatkan ekonomi bangsa, menjadikan Unsoed sebagi Universitas terbaik di dunia, mewujudkan cita-cita Pancasila untuk mencerdaskan bangsa dan dari berternak pulalah kita wujudkan negeri syurga. 

Inilah impian yang ingin kuwujudkan ketika aku lulus menjadi sarjana perternakan, dan pada tahun 2025 saat umurku 27 tahun, aku adalah seorang Entrepreneur muda yang sukses tidak hanya pada dirinya namun juga untuk bangsa dan almamater.